Mengenal Apa Ciri-Ciri Algoritma yang Sebenarnya?

Apa Ciri-Ciri Algoritma

Apa ciri-ciri algoritma yang membedakannya dari sekadar daftar belanja atau instruksi biasa? Di era digital yang serba cerdas ini, istilah algoritma seolah menjadi nyawa dari setiap teknologi yang kamu gunakan. Mulai dari media sosial yang menampilkan konten favoritmu, mesin pencari yang memberikan hasil relevan, hingga aplikasi peta yang mencari rute tercepat, semuanya digerakkan oleh algoritma.

Namun, memahami algoritma tidak selalu harus dengan coding yang rumit. Pada dasarnya, algoritma adalah jantung dari pemecahan masalah secara sistematis. Sebelum kamu menulis kode program atau membuat sistem yang kompleks, kamu perlu memahami fondasinya terlebih dahulu.

Ciri-Ciri Algoritma

Seorang pemrogram atau pemecah masalah yang baik harus memastikan rancangannya memenuhi syarat-syarat berikut. Bila salah satu saja tidak terpenuhi, maka prosedur tersebut belum bisa dikategorikan sebagai algoritma yang benar atau berisiko gagal saat dijalankan. Berdasarkan kajian ilmu komputer dan pemrograman, berikut adalah ciri-ciri algoritma:

1. Finiteness (Keterbatasan)

Ciri pertama adalah finiteness atau keterbatasan. Ini berarti algoritma harus memiliki akhir. Setelah menjalankan serangkaian langkah, prosesnya harus berhenti. Algoritma tidak boleh berjalan tanpa henti (infinite loop).

Ketika kamu membuat algoritma untuk mencari nomor telepon di kontak, proses pencarian akan berhenti ketika nomor ditemukan atau setelah semua nama diperiksa dan ternyata tidak ada. Jika algoritmamu terus mencari tanpa kondisi berhenti, itu menandakan ada kesalahan logika di dalamnya. Jadi, pastikan setiap algoritma yang kamu buat memiliki garis finis yang jelas .

Bayangkan kamu membuat kopi. Algoritmanya mungkin: panaskan air, masukkan kopi ke cangkir, tuang air panas, aduk, sajikan. Proses ini memiliki akhir yang jelas, yaitu ketika kopi siap dinikmati. Tanpa batasan yang jelas, kamu akan terus memanaskan air tanpa tujuan.

2. Definiteness (Ketepatan)

Setiap langkah dalam algoritma harus ditulis dengan definiteness, yaitu jelas dan tidak ambigu. Instruksi harus memiliki makna tunggal, sehingga siapa pun yang menjalankannya (baik manusia maupun komputer) akan melakukan hal yang sama persis.

Contoh instruksi yang ambigu adalah “Panaskan air.” Seberapa panas? 50 derajat atau 100 derajat? Instruksi yang lebih baik adalah “Panaskan air hingga mencapai suhu 100 derajat Celcius.” Kejelasan ini krusial dalam pemrograman komputer karena mesin tidak bisa menebak-nebak maksudmu.

3. Input (Masukan)

Sebuah algoritma biasanya membutuhkan input atau masukan untuk diolah. Input adalah data atau informasi yang diberikan kepada algoritma sebelum ia mulai bekerja. Jumlah input bisa nol atau lebih. Artinya, ada algoritma yang tidak memerlukan input sama sekali (misalnya, algoritma “Sapa Dunia” yang hanya mencetak teks “Halo Dunia”), namun pada umumnya algoritma membutuhkan data untuk diproses .

Contohnya, dalam algoritma menghitung luas persegi panjang, inputnya adalah nilai panjang dan lebar. Tanpa kedua angka ini, algoritma tidak akan bisa memproduksi hasil.

4. Output (Keluaran)

Setelah memproses input, algoritma harus menghasilkan output atau keluaran. Output ini merupakan solusi dari masalah yang ingin dipecahkan. Minimal, sebuah algoritma harus memiliki satu output yang relevan dengan inputnya .

Dari contoh menghitung luas persegi panjang, outputnya adalah sebuah angka yang merupakan hasil perkalian panjang dan lebar. Output inilah yang menjadi tujuan akhir dari algoritma tersebut.

5. Effectiveness (Keefektifan)

Ciri effectiveness mengharuskan setiap langkah dalam algoritma dapat dikerjakan secara nyata dan masuk akal. Instruksi harus sederhana sehingga dapat dieksekusi dalam waktu yang wajar oleh pemrosesnya (komputer atau manusia) .

Hindari instruksi yang mustahil atau sangat rumit. Misalnya, “Hitung jumlah seluruh pasir di pantai.” Instruksi ini tidak efektif karena tidak mungkin dihitung secara manual. Dalam pemrograman, efektivitas juga berkaitan dengan efisiensi. Algoritma yang baik tidak hanya benar, tetapi juga menggunakan sumber daya (waktu dan memori) seminimal mungkin .

6. Struktur yang Jelas (Structured)

Algoritma yang baik dirancang untuk menyelesaikan kelas masalah yang serupa, bukan hanya satu kasus spesifik. Algoritma “Membuat Kopi” harus bisa diterapkan untuk membuat secangkir kopi, baik menggunakan gula atau tidak, menggunakan kopi bubuk atau instan. Dalam pemrograman, algoritma sorting seperti Bubble Sort atau Quick Sort dirancang untuk mengurutkan data apa pun, baik itu angka, huruf, atau data lainnya, tidak hanya satu set data tertentu .

7. Independen dari Bahasa Pemrograman

Ciri penting lainnya adalah algoritma harus independen dari bahasa pemrograman tertentu . Artinya, algoritma ditulis dalam notasi yang bersifat umum sehingga dapat diimplementasikan menggunakan bahasa pemrograman apa pun, seperti Python, Java, C++, atau JavaScript.

Cara Menyajikan Algoritma

Setelah memahami apa ciri-ciri algoritma, kamu juga perlu tahu bagaimana algoritma disajikan. Ada tiga cara umum untuk mengekspresikan algoritma:

1. Deskripsi Naratif (Bahasa Alami)

Algoritma ditulis menggunakan bahasa sehari-hari yang mudah dipahami. Cara ini sederhana tetapi cenderung bertele-tele dan bisa menimbulkan ambiguitas . Contohnya resep masakan atau petunjuk penggunaan alat.

2. Flowchart

Flowchart menyajikan algoritma dalam bentuk diagram atau gambar alur proses menggunakan simbol-simbol tertentu . Oval untuk start/end, jajar genjang untuk input/output, persegi panjang untuk proses, dan diamond untuk percabangan. Flowchart lebih mudah dipahami daripada deskripsi naratif karena visual.

3. Pseudocode

Pseudocode adalah cara menulis algoritma dengan struktur mirip bahasa pemrograman tetapi lebih sederhana, menggunakan bahasa yang mendekati bahasa manusia tetapi terstruktur seperti kode program. Cara ini menghindari ambiguitas dan tetap independen dari bahasa pemrograman tertentu.

Contoh Penerapan Ciri-Ciri Algoritma

Mari kita lihat bagaimana apa ciri-ciri algoritma diterapkan dalam aktivitas yang mungkin kamu lakukan setiap hari:

Contoh 1: Algoritma Membuat Kopi Manis

  1. Rebus 250 ml air hingga mendidih (input: air)
  2. Siapkan gelas dan masukkan satu sendok kopi
  3. Tuang air panas ke dalam gelas (proses)
  4. Diamkan selama 3 menit
  5. Tambahkan dua sendok teh gula, aduk hingga larut
  6. Kopi siap diminum (output: kopi manis)

Analisis ciri-ciri:

  • Finiteness: Algoritma berhenti setelah kopi siap diminum
  • Definiteness: Setiap langkah jelas, misalnya “250 ml” bukan “secukupnya”
  • Input: Air, kopi, gula
  • Output: kopi manis
  • Effectiveness: Langkah-langkah sederhana dan bisa dilakukan siapa pun

Contoh 2: Algoritma Menentukan Rute ke Kantor

  1. Tentukan lokasi kantor (input)
  2. Buka aplikasi peta di ponsel
  3. Masukkan alamat kantor
  4. Biarkan aplikasi menghitung beberapa alternatif rute (proses)
  5. Pilih rute dengan waktu tempuh terpendek
  6. Ikuti petunjuk navigasi
  7. Tiba di kantor (output: lokasi tujuan)

Analisis ciri-ciri:

  • Finiteness: Perjalanan berakhir saat tiba di kantor
  • Definiteness: Setiap langkah jelas dan terukur
  • Input: Alamat kantor
  • Output: Tiba di kantor
  • Effectiveness: Memilih rute tercepat menghemat waktu dan bahan bakar

Mengapa Memahami Ciri-Ciri Algoritma Itu Penting?

Mungkin kamu berpikir, “Saya tidak mau jadi programmer, mengapa harus tahu ini?” Jawabannya sederhana: karena kemampuan berpikir algoritmis (algorithmic thinking) adalah skill hidup yang sangat berharga .

  • Dengan terbiasa menyusun langkah logis, kamu akan lebih terstruktur dalam menghadapi masalah sehari-hari. Kamu tidak akan panik, tetapi secara otomatis akan memilah apa input-nya, bagaimana proses terbaik, dan apa output yang diharapkan.
  • Apapun bahasa pemrograman yang ingin kamu pelajari di masa depan (Python, JavaScript, PHP, dll.), logika algoritma tetaplah sama. Menguasai algoritma berarti kamu sudah menguasai fondasinya, tinggal menyesuaikan dengan aturan tata bahasa (syntax) dari bahasa yang kamu pilih .
  • Saat meminta bantuan orang lain untuk menyelesaikan masalah, kamu bisa memberikan instruksi yang jelas, terstruktur, dan tidak ambigu, sehingga hasilnya pun akan sesuai harapan.

Ingatlah pesan Pablo Picasso, “Komputer itu tidak berguna. Mereka hanya bisa memberikan jawaban.” Komputer hanya menjalankan instruksi yang kita berikan melalui algoritma. Kitalah yang merancang logika di baliknya. Semakin baik algoritma yang kamu rancang, semakin baik pula solusi yang dihasilkan.

Bagikan artikel ini ke teman-temanmu agar mereka juga paham apa ciri-ciri algoritma!

Baca juga:

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

1. Apa perbedaan utama antara algoritma dan program komputer?

Algoritma adalah logika dan langkah-langkah penyelesaian masalah, yang ditulis dalam bahasa manusia atau notasi umum (seperti pseudocode). Program komputer adalah implementasi nyata dari algoritma tersebut dalam bahasa pemrograman tertentu (seperti Python atau Java) sehingga bisa dieksekusi oleh mesin . Satu algoritma bisa diimplementasikan ke dalam banyak program yang berbeda.

2. Apakah semua prosedur dalam kehidupan sehari-hari bisa disebut algoritma?

Tidak semua. Sebuah prosedur baru bisa disebut algoritma jika memenuhi ciri-ciri yang telah kita bahas, terutama finiteness (ada akhirnya) dan definiteness (langkahnya jelas). “Berjalan-jalan di mal tanpa tujuan” bukanlah algoritma, tetapi “Berbelanja baju dengan anggaran Rp 500.000” adalah algoritma karena ada input (uang), proses (mencari baju dalam rentang harga), dan output (baju yang dibeli).

3. Apa yang dimaksud dengan algoritma yang efisien?

Algoritma efisien adalah algoritma yang dapat menghasilkan output yang benar dengan menggunakan sumber daya komputer seminimal mungkin. Sumber daya utama yang diukur adalah waktu eksekusi (seberapa cepat selesai) dan penggunaan memori (seberapa sedikit ruang penyimpanan yang dipakai). Algoritma yang lambat dan boros memori tidak akan berguna untuk data berukuran besar .

4. Apa itu pseudocode dan mengapa digunakan dalam algoritma?

Pseudocode adalah cara menulis algoritma dengan menggunakan bahasa yang mirip dengan bahasa pemrograman, tetapi lebih sederhana dan tidak terikat aturan sintaksis bahasa tertentu . Tujuannya agar algoritma mudah dibaca dan dipahami oleh manusia (programmer lain) sebelum diterjemahkan ke dalam kode program yang sebenarnya.

5. Sebutkan satu contoh algoritma dalam teknologi yang sering kamu gunakan?

Salah satu contoh paling nyata adalah algoritma rekursi atau pencarian jalur (pathfinding) pada aplikasi Google Maps atau Waze . Aplikasi ini menggunakan algoritma kompleks seperti Algoritma Dijkstra atau A* untuk menghitung jutaan kemungkinan rute dari lokasimu ke tujuan, mempertimbangkan jarak, kemacetan, dan hambatan, lalu memberikan output berupa rute tercepat yang direkomendasikan.

Referensi

  1. Anggreani, S., & Yahfizham, Y. (2024). Pengantar dan Pengenalan Konsep Dasar Algoritma Pemrograman. Pendekar: Jurnal Pendidikan Berkarakter, 2(1), 282-294.
  2. Sari, I. P. (2021). Pengantar Algoritma Dan Pemrograman. Osf Preprints, 4(1), 88-100.
  3. https://telkomuniversity.ac.id/apa-itu-algoritma-pengertian-ciri-ciri-jenis-dan-contohnya-dalam-kehidupan-sehari-hari/
  4. https://www.dicoding.com/blog/6-ciri-algoritma-pemrograman/
Scroll to Top