Gen Z dan AI: Antara Peluang Besar dan Jurang Ketergantungan

Gen Z dan AI

Gen Z dan AI

Generasi Z dan AI kini berjalan beriringan bagaikan dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Kamu yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012 tumbuh bersama teknologi, menjadikanmu digital native pertama yang harus berhadapan langsung dengan ledakan kecerdasan buatan. Berdasarkan survei APJII tahun 2025, 43,7% pengguna AI di Indonesia didominasi oleh Gen Z, jauh melampaui generasi Milenial yang hanya 22,3%. Angka ini menegaskan bahwa AI bukan lagi sekadar teknologi asing, melainkan telah menjadi teman sehari-hari dalam menjalani aktivitas.

Generasi Paling Adaptif di Era Disrupsi

Kamu mungkin tidak menyadari seberapa dalam AI telah merasuk ke dalam rutinitas harian. Saat membuka media sosial, algoritma AI memilihkan konten yang ingin kamu lihat. Ketika mengetik tugas kuliah, ChatGPT atau Gemini siap sedia menjawab pertanyaan rumit. Bahkan ketika melamar pekerjaan, sistem Applicant Tracking System (ATS) berbasis AI akan menyaring CV-mu sebelum manusia membacainya .

Survei Salesforce mengungkapkan bahwa 70 persen Gen Z telah menggunakan AI generatif dalam aktivitas sehari-hari, dan 52 persen di antaranya percaya AI dapat membantu mengambil keputusan . Ini menunjukkan bahwa adaptasi teknologi yang kamu miliki jauh lebih cepat dibanding generasi sebelumnya.

Guru Besar UGM, Prof. Ridi Ferdiana, menyebut fenomena ini sebagai disrupsi terbesar yang mengubah cara berpikir generasi muda. Menurutnya, di lingkungan kampus seperti UGM, dari total 60 ribu mahasiswa, sekitar 45 ribu telah menggunakan AI dalam aktivitas akademik maupun keseharian. Bahkan ia memprediksi pada tahun 2030, adopsi AI bisa mencapai 100 persen di kalangan mahasiswa.

Namun di balik angka-angka mengesankan ini, hubunganmu dengan AI ternyata jauh lebih kompleks dari sekadar hitam putih kemudahan teknologi.

Peluang Besar di Dunia Pendidikan dan Karier

Kabar baiknya, AI membuka pintu peluang yang sebelumnya tak terbayangkan. Dalam dunia pendidikan, kamu bisa mendapatkan pengalaman belajar yang dipersonalisasi. Fitur guided learning pada platform seperti Gemini AI memungkinkanmu melakukan penelitian mendalam dan memahami konsep secara bertahap, bukan sekadar menerima jawaban instan.

Di ranah profesional, pasar kerja saat ini tidak lagi mencari mereka yang sekadar mahir operasional. Justru mereka yang mampu memanfaatkan AI untuk memperkuat suara dan identitas profesional akan unggul dalam persaingan . Kisah Vy dalam program Voices of Galaxy menunjukkan bagaimana anak muda menggunakan Galaxy AI dan Gemini Live untuk merefleksikan diri, mengidentifikasi keunikan, dan memperbaiki lamaran kerja agar lebih mencerminkan jati diri.

Namun waspadalah, karena 57 persen pekerja Gen Z sudah menggunakan AI untuk membantu pekerjaan, tapi sering lupa mengutip bahwa hasil kerja mereka dibantu AI. Ini bisa menjadi bumerang etika di kemudian hari.

Sisi Gelap yang Jarang Disadari

Sayangnya, tidak semua yang berkilau adalah emas. Riset Kompas mengungkap paradoks menarik: meski Gen Z percaya diri menggunakan AI, saat diuji kemampuannya menulis perintah (prompt) atau mengevaluasi kelemahan AI, performa mereka masih rendah . Kondisi ini disebut sebagai overconfidence trap—jebakan di mana rasa percaya diri tidak sejalan dengan kompetensi aktual.

Lebih mengkhawatirkan lagi, survei TalentLMS menemukan bahwa penggunaan AI secara intensif berbanding lurus dengan menurunnya keterampilan dasar di tempat kerja. Pekerja muda yang sangat bergantung pada AI dilaporkan kesulitan dalam kerja sama tim, komunikasi, dan membangun relasi profesional.

Prof. Ridi Ferdiana memperkenalkan istilah DDA atau ‘dikit-dikit AI’, fenomena di mana anak muda menggunakan AI untuk segala aktivitas hingga mengalami underload, yaitu berkurangnya kemampuan otak dalam berpikir. Akibatnya, critical thinking dan daya ingat menurun, terjadi efek brain rot karena otak jarang diasah.

Bayangkan, jika kamu terus-menerus bertanya pada ChatGPT untuk hal-hal sederhana yang sebenarnya bisa kamu pikirkan sendiri, secara perlahan kamu sedang melemahkan otot kognitifmu sendiri.

Krisis Kesepian dan Pengganti Teman Palsu

Salah satu temuan paling mencengangkan datang dari BBC yang melaporkan krisis kesepian di kalangan Gen Z. Kantor Statistik Inggris menemukan bahwa 33 persen anak muda berusia 16-29 tahun “sering, selalu, atau kadang-kadang” merasa kesepian. Lebih tragis lagi, 39 persen anak usia 11-18 tahun menggunakan chatbot AI sebagai teman bicara .

Seorang pemuda bernama Paisley mengaku berbicara dengan ChatGPT enam hingga delapan kali sehari tentang masalah pribadinya. “Saya berharap ChatGPT akan menjadi teman saya, dan cara termudah untuk berkontak adalah dengan berbicara kepada robot karena robot memberikan respons,” katanya .

Sam Tullen, pembuat film dokumenter Generation Lonely, menegaskan bahwa kita telah membangun dunia di mana lebih mudah berbicara dengan chatbot daripada manusia. Padahal, menurut Adam Farricker dari badan amal Empower Youth Zones, AI tidak memiliki kecerdasan emosional yang dimiliki manusia. Anak-anak dan remaja masih mengembangkan emosi mereka, sehingga belum tentu mampu memahami informasi yang diterima secara kritis .

Jennifer Cearns, dosen AI Trust di Universitas Manchester, memperingatkan bahwa chatbot cenderung bertindak sebagai “penjilat” yang hanya menggemakan apa yang ingin kamu dengar. Jika terbiasa dengan lingkungan yang tidak pernah menentang, terutama pada masa kritis perkembangan usia muda, ini berpotensi meluas ke cara berinteraksi dengan manusia lain di kemudian hari.

Ancaman di Dunia Kerja: Antara Optimisme dan Kecemasan

Laporan British Standards Institution (BSI) mengungkap fakta pahit: 41 persen pimpinan perusahaan mengakui bahwa AI memungkinkan mereka mengurangi jumlah karyawan. Bahkan 31 persen organisasi kini mempertimbangkan solusi AI sebelum memikirkan untuk merekrut manusia .

Sebanyak 39 persen pemimpin perusahaan mengatakan posisi entry-level telah dikurangi atau dihapus karena efisiensi yang dicapai melalui AI untuk melakukan penelitian atau tugas administratif . Ini jelas menjadi alarm bagi kamu yang baru akan memasuki dunia kerja.

Namun di sisi lain, Indonesia AI Report 2025 dari Kumparan dan Populix menunjukkan bahwa 95 persen responden percaya AI berdampak pada cara orang bekerja, dan 91 persen proaktif menyambut transformasi ini. Mereka yakin keterampilan AI yang dimiliki sesuai dengan kebutuhan kerja masa depan .

Menariknya, survei terpisah mengungkap bahwa 70 persen responden yakin AI justru mampu membuka lapangan kerja baru . Jadi bukan soal tergantikan atau tidak, melainkan seberapa siap kamu beradaptasi.

Kesenjangan Persepsi dengan Perekrut

Masalah lain muncul ketika 99 persen manajer perekrutan telah mengintegrasikan AI ke dalam proses penyaringan mereka . Namun ironisnya, survei Fortune menunjukkan hanya 8 persen pemberi kerja yang percaya Gen Z benar-benar siap menghadapi dunia kerja .

Mengapa bisa demikian? Forbes pada Mei 2024 mencatat 45 persen manajer menganggap Gen Z sebagai generasi paling sulit dikelola. CV yang disederhanakan dengan bantuan AI mungkin memiliki struktur tepat, tetapi kekurangan elemen penting: sentuhan pribadi .

Dengan 90 persen perusahaan Fortune 500 menggunakan sistem penyaringan resume otomatis, CV tanpa poin-poin kuat akan mudah ditolak pada putaran pertama, bahkan sebelum manusia sempat membacanya .

Perlindungan Data dan Privasi di Era AI

Setiap kali berinteraksi dengan AI, kamu diminta menyerahkan data pribadi. Data itu tidak dilupakan; disimpan, dianalisis, dan digunakan untuk melatih algoritma berikutnya. National Consumers League menyoroti bahwa Gen Z membutuhkan perlindungan lebih terkait kebijakan privasi yang jelas dan kemampuan untuk memilih keluar dari pengumpulan data tanpa kehilangan akses penuh ke layanan .

Regulasi yang lebih kuat diperlukan untuk melindungi informasi sensitif seperti lokasi dan data pengenalan wajah. Ditambah dengan ancaman misinformasi yang semakin mudah disebarkan melalui AI generatif, kemampuan memverifikasi fakta menjadi keharusan, bukan lagi pilihan.

Menemukan Keseimbangan: Bijak Memanfaatkan AI

Lalu bagaimana cara menavigasi era AI tanpa kehilangan jati diri sebagai manusia? Prof. Ridi Ferdiana memperkenalkan konsep ERA yang patut kamu terapkan:

  1. Essential â€“ Untuk pengetahuan dasar, tetaplah menggunakan buku sebagai sumber acuan ilmiah. Pahami fondasi sebelum bertanya pada AI.
  2. Rating â€“ Berpikir kritislah dalam mempertimbangkan keputusan, baru gunakan AI untuk meminta opini sebagai pembanding. Jaga kemampuan analisismu tetap tajam.
  3. Applicable â€“ Manfaatkan AI sebagai alat bantu menyelesaikan tugas, dengan catatan tahapan esensial dan rating sudah dipahami baik .

Dengan pendekatan ini, kamu menjadikan generative AI sebagai partner, bukan pengganti peranmu dalam menyelesaikan masalah.

Survei Udemy mencatat bahwa 30 persen Gen Z ingin mengembangkan keterampilan AI, namun pada saat yang sama mereka juga menekankan pentingnya komunikasi (30 persen) dan berpikir kritis (26 persen). Lebih jauh, 84 persen responden Gen Z menganggap soft skills adalah kunci keberhasilan profesional .

Ini kabar baik! Artinya kamu sadar bahwa AI memang alat bantu penting, namun tidak bisa menggantikan keterampilan manusia yang mendasar.

Masa Depan di Tangan Generasi yang Bijak

Generasi Z dan AI akan terus berjalan berdampingan membentuk peradaban baru. Data menunjukkan 76 persen Gen Z telah menggunakan standalone generative AI seperti ChatGPT atau Claude, tertinggi dibanding generasi mana pun . Mereka menggunakan AI untuk pendidikan, produktivitas, dan hiburan. Sebanyak 61 persen memanfaatkan AI untuk mendukung pembelajaran .

Namun ingat, di University of Cincinnati’s 1819 Innovation Hub, para ahli menekankan bahwa setiap generasi memiliki kontribusi. Antusiasme Gen Z mendorong inovasi, sementara skeptisisme Gen X menjadi pemeriksa penting agar pekerjaan kritis tidak begitu saja diserahkan pada platform luar dengan pengawasan terbatas .

Kamu memiliki potensi luar biasa untuk memimpin di era AI. Dengan memahami peluang dan tantangan, serta mengembangkan keterampilan teknis sekaligus manusiawi, kamu dapat memastikan bahwa AI digunakan untuk menciptakan masa depan yang lebih baik.

Pertanyaan kuncinya bukan lagi “Bagaimana cara menggunakan AI?”, melainkan “Kapan sebaiknya saya menggunakan AI, dan kapan saya harus mengandalkan kemampuan sendiri?”

Bagikan artikel ini kepada teman-teman sesama Gen Z agar mereka juga sadar akan posisi uniknya di era kecerdasan buatan. Diskusikan bersama bagaimana kita bisa memanfaatkan AI secara bijak tanpa kehilangan esensi kemanusiaan.

Baca juga:

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

1. Apakah AI akan menggantikan pekerjaan Gen Z di masa depan?

Survei BSI menunjukkan 41 persen perusahaan mempertimbangkan pengurangan karyawan karena AI, namun 70 persen responden Indonesia AI Report 2025 justru yakin AI membuka lapangan kerja baru . Pekerjaan yang bersifat rutin dan administratif berisiko tergantikan, tetapi peran yang membutuhkan kreativitas, kecerdasan emosional, dan pemikiran strategis justru akan semakin berharga. Kuncinya adalah adaptasi dan pengembangan keterampilan yang tidak bisa dilakukan AI.

2. Berapa banyak Gen Z yang sudah menggunakan AI dalam kehidupan sehari-hari?

Berdasarkan survei Salesforce, 70 persen Gen Z telah menggunakan AI generatif dalam aktivitas sehari-hari . Di Indonesia, data APJII 2025 menunjukkan 43,7 persen pengguna AI didominasi Gen Z, disusul Milenial 22,3 persen . Di lingkungan kampus seperti UGM, dari 60 ribu mahasiswa, sekitar 45 ribu telah menggunakan AI untuk keperluan akademik .

3. Apa dampak negatif AI terhadap kesehatan mental Gen Z?

Penggunaan chatbot AI sebagai teman bicara dapat memperparah krisis kesepian. Studi di Inggris menunjukkan 39 persen anak usia 11-18 tahun menggunakan chatbot karena kesepian . AI tidak memiliki kecerdasan emosional dan cenderung selalu setuju, sehingga pengguna kehilangan pengalaman berinteraksi dengan sudut pandang berbeda. Jennifer Cearns dari Universitas Manchester memperingatkan ini bisa mempengaruhi cara berinteraksi dengan manusia lain di kemudian hari .

4. Bagaimana cara bijak menggunakan AI tanpa menjadi ketergantungan?

Terapkan konsep ERA dari Prof. Ridi Ferdiana: Essential (gunakan buku untuk pengetahuan dasar), Rating (berpikir kritis sebelum meminta opini AI), dan Applicable (manfaatkan AI sebagai alat bantu setelah dua tahap sebelumnya dikuasai) . Hindari DDA (dikit-dikit AI) dengan membatasi penggunaan hanya untuk tugas yang benar-benar membutuhkan bantuan teknologi.

5. Apa perbedaan cara pandang Gen Z dengan generasi lain terhadap AI?

Gen Z memandang AI sebagai bagian integral kehidupan, sementara Milenial berada di posisi tengah dengan separuh hidupnya menggunakan teknologi. Generasi X dan Baby Boomers sebagai digital immigrant melihat AI hanya sebatas alat bantu kerja seperti Microsoft Word atau Excel . Gen Z juga tercatat sebagai super-users dengan tingkat adopsi tertinggi, namun paradoxnya 41 persen di antaranya merasa cemas dengan teknologi ini .

Scroll to Top